May 19th, 2008 by ayipbali
I See Indonesia
Pengantar Karya Oleh Ayip
Isi buku ini, Awalnya adalah koleksi lepasan karya pribadi yang dituangkan suka-suka dalam goresan, foto maupun desain. Membiasakan merespon sesuatu apalagi kejadian barangkali yang melatari hadirnya karya- karya diluar pekerjaan mendesain atau non komersil ini. Bagi saya kebiasaan ini penting sebagai catatan bebas merespon sesuatu lewat kepekaan dan kacamata profesi.
Indonesia, entah apa rasanya bagi saya. Saya menjadi orang Indonesia secara otomatis karena dilahirkan di Indonesia, karena orang tua saya adalah orang Indonesia. Jadi apa rasanya? Saya tidak pernah bergerilya menghunus bambu runcing. Satu-satunya momen yang melekat merasa pertamakali menjadi orang Indonesia adalah upacara bendera di sekolah dasar dulu. Menyanyikan lagu Indonesia Raya, membacakan teks Pancasila dan proklamasi, membacakan teks sumpah pemuda dan menghormat kepada bendera merah putih.
Kegalauan menjadi orang Indonesia justru terjadi ketika melihat kepiluan mendalam merasakan ketidaksempurnaan sebuah bangsa: oknum pemerintahan dan mentalitas bangsa yang korup, kebijakan pemerintah yang tidak strategis, asset bangsa “dicuri” orang, mudah “dibodohi” bangsa lain dan sulit “bangkit” dari keterpurukan. Pada suatu ketika di sebuah perjalanan di negeri orang tiba-tiba mata saya berkaca. Pedih karena tiba-tiba terbesit “negative thinking” merasa bahwa ini barangkali adalah nasib bangsa Indonesia. Atau barangkali suratan? Mudah-mudahan hanya romantisme saja. Dan saya memilih ini adalah nasib karena dengan upaya ia bisa berubah…
Semua yang saya buat disini -dibuat dalam kurun 2002-2008- terutama ditujukan kepada diri sendiri, sebagai pertanyaan, kemungkinan dan andai-andai bahkan “hiburan”. Gambar diri yang ditutup matanya oleh “kain merah putih” yang ditaruh pada halaman utama adalah cermin “Saya Melihat Indonesia” yang tak berjarak. Terbutakan. Dan sangat subyektif. Itulah cerminan semua karya yang tampil bersama dalam buku ini.
Jika akhirnya harus dipublikasikan anggap saja saya merindukan percakapan tentang Indonesia yang “berbeda”, yang dapat menegaskan kembali arti penting kebangsaan bagi kita semua secara “out of mainstream”. Jika ternyata kegelisahan ini dimiliki oleh banyak orang yang sama seperti saya, Alhamdulillah.
Berpikir tentang kekayaan Indonesia; Alam, seni dan budaya, manusia, kreatifitasnya, luasnya dan berjuta potensi lainnya, inilah yang menjadikan ketidaknyamanan melihat kenyataannya. Will I see Indonesia in the bright time? Suatu saat saya ingin tergetar seperti ketika saya mengolah kedahsyatan dan keindahan kata In-do-ne-sia, kekuatan merah-putih dan Burung Garuda serta keragaman gambar Indonesia dalam karya karya di buku ini. Thanks God I’m Indonesian.
Secara sengaja, buku ini diterbitkan bertepatan dengan peringatan 100 tahun kebangkitan nasional Indonesia. Mudah-mudahan menjadi manfaat, inspirasi dan benih untuk kita lebih berarti.
Denpasar Mei 2008
May 20th, 2008 at 7:27 am
sekarang ini anak saya lagi belajar nama pahlawan dan asal daerahnya di sekolah, mungkin ini bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional. Namun dalam pemikiran seorang ibu yang asli orang Indonesia mungkin untuk sekarang cukup bagi dia yg TK B mengenal pahlawan2nya sebatas itu. Sedangkan masih banyak ‘pahlawan Indonesia’ yang mencintai Indonesia dengan segala macam cara untuk ‘membahagiakan’ bangsanya. Entah itu memerdakakan dari bangsa penjajah sampai mengisi kemerdekaannya itu sendiri.
Dan, demi membaca kata pembukaan nya Mas Ayip, buku ini nampaknya memberikan nilai lain untuk melihat Indonesia sekarang buat saya yang orang awam (yang mungkin terdongkrak sedikit rasa nasionalisme-nya waktu inget… oooo… udah 100tahun ya bangsa Indonesia memiliki rasa ingin merdeka). Mungkin akan sangat berguna sekali untuk dibaca2 lagi 10tahun atau 20tahun mendatang untuk anak saya, sekedar menengok Indonesia jaman dia kecil dengan jamannya dia skarang, entah.. yang jelas, pantas untuk dikoleksi sekaligus sebagai bacaan ‘yang lain’ dari segi ‘kreatif’ (ntaah apa istilahnya) selain buku2 sejarah wajib dari sekolahnya, atau cergam wayang, Tintin, NG, milik ibunya yang akan dihibahkan untuknya kelak.
Apalagi diterbitkan sangat terbatas.. ayoo.. beli!!!!
May 21st, 2008 at 2:03 am
congrats om ayip….
August 3rd, 2008 at 12:24 am
Buku “I see Indonesia” merupakan gabungan dari passion dan cinta pada sebuah bangsa, konsep desain grafis yang sangat baik, serta skill perupa yang tidak kalah baiknya dari konsep. Memang buku ini tidak membuat alur cerita tertentu yang berujung pada kesimpulan baru(kalau saya tidak salah, karena saya belum baca bukunya secara utuh), namun sebagai pecahan dan kilasan kilasan ide mengenai kebanggaan, kesedihan, dan kemarahan Ayip tentang bangsa ini, maka itu sudah cukup menggugah. Kritik dan keresahan Ayip dalam buku ini adalah hal yang telah kita pahami sebelumnya, namun cara penyampaian bak graphic novel yang minim kata ini adalah sesuatu yang menyegarkan dan menggugah. Pembaca diajak, bukan sekedar berpikir secara rasional dengan otak kanan, namun menghayati secara utuh dengan segenap tubuh, ya otak, ya hati. Selamat untuk kawan kawan yang terlibat dalam pembuatan buku ini.