May 18th, 2008 by admin
MENGGALI DAN MENGINTERPRETASI KEMBALI SIMBOL KEINDONESIAAN
Oleh: Sugi Lanus
Buku ini adalah ‘reproduksi simbol’. Deretan huruf I-N-D-O-N-E-S-I-A, Garuda Pancasila, Batik, Borobudur, bambu runcing, etc. adalah deretan symbol keindonesiaan yang telah ada, yang mulai kehilangan makna simboliknya, di sini dipresentasikan kembali dengan cara baru, digali kembali dengan ‘perangkat visual’ yang mampu mencampuradukkan Cinta dan Kesedihan, Harapan, Kelakar, Kegalauan sekaligus Kebanggaan. Simbol-simbol itu diberi ‘nyawa baru’, reinterpretasi secara aktual, dan dijejalkan ke dalamnya segumpal harapan.
Ayip, sebagai pekerja kreatif di bidang desain visual yang hidupnya sebagian besar di depan screen computer, membawa kita merenungi Indonesia dengan ‘cara visual’. Ia menyuguhkan sebuah presentasi tentang sebuah Indonesia dari sudut lain. Layar computer adalah tempatnya merenung, bersedih, haru, berkelakar, dan dengan cara ini pula ia mencintai – yang akhirnya, lewat buku ini, ia mengajak kita ke halaman-halaman renungan.
Bisakah tampilan ‘visual keindonesiaan’ yang dipresentasikanya mewakili gelisah dan kecamuk perasaan warga bangsa? Bertepatan dengan 100 tahun ide Kebangkitan Indonesia, bertepatan dengan tercerai-berainya ide-ide mulia bertanah air satu dan untuk bersama menuju kebangunan jiwa, bertepatan dengan hilangnya makna dan terkaitan masyarakat Indonesia dengan symbol-simbol kebangsaan kita, sekumpulan ekspresi yang dihimpunnya sebagai buku ini terasa relevan.
Lihat saja ‘Indonesia yang terjemur-tergantung’, For Lease 100 Years. Pulau-pulau besar di Indonesia seperti jemuran pakaian di kawasan urban. Khatulisiwa menjadi tali, dan Indonesia berkibar tergantung. Khatulistiwa bukan lintasan matahari yang berkilau, tapi arakan mendung yang pucat. Demikian juga On Regular Maintenance, lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia, berupa Garuda Pancasila, sedang dipreteli. Perisai tergeletak. Lima simbol pada perisai sedang digantung (dijemur ataukah diobral?). Apa maksud Ayip dengan kepulauan dan simbol-simbol negera yang tergantung ini? Kata tergantung dalam bahasa Indonesia bisa bermakna depend on, bisa juga bermakna hanging, dua situasi yang tidak berpunya kekuatan untuk memilih, cenderung pada kekuatan dari luar untuk menentukannya. Rentan basah diguyur badai, rentan tersapu angin, rentan koyak porak poranda.
Ayip menyuguhkan kembali heroisme bambu runcing, yang mulai terlupakan dan tergantikan heroisme Robo Cop atau Superman. Bambu runcing mewakili situasi pejuang kemerdekaan Indonesia yang minim persenjataan, sehingga sebagian besar laskar sering terpaksa bersenjata bambu yang diruncingkan (atau sering disebut pasukan bambu runcing). Bambu runcing, untuk setidaknya 4 dekade, menjadi imaji paling heroic yang tertanam di kepala masyarakat Indonesia. Buku-buku pelajaran sekolah, dari SD sampai SMA, tentang sejarah kemerdekaan tak lepas dari drawing atau sket bambu runcing: Seorang pejuang yang gagah berani memegang bambu runcing menerjang tak gentar ke medan perang. Ada Merah Putih terkait di bambu itu. Film-film yang berkisah tentang kemerdekaan Indonesia seperti Janur Kuning, Serangan Fajar, sampai yang terkini, Naga Bonar, masih menyuguhkan panji-panji kepahlawanan yang dicitrakan dengan bambu runcing. Bambu runcing adalah tombak alami masyarakat Nusantara, yang konon, paling membuat bergidik bangsa Belanda. Termaktub di dalamnya juga sebuah keyakinan, sekebal apapun seseorang akan punah ilmunya diujung bambu. Dalam benak Ayip ada juga bambu runcing. Ia mencita-citakan bambu ini tergantikan oleh pensil. Di ujung runcing bambu, ia memberi caption ini: Fighting for Freedom, berlatar gelap. Di sebelahnya, sebuah pensil runcing dengan kemiringan yang sama, ketajaman yang sama, berlatar terang, bercaption: Freedom of Fighting.
Runcing bambu (alat pembunuh) menjadi runcing pensil (alat pencerah) adalah sebuah presentasi ide yang berhasil menyuguhkan sebuah cita-cita dan arah progresivitas kebangsaan yang ideal. Ada ‘formula kebangsaan’ yang hendak disuguhkan dalam beberapa halaman-halaman (terpenting) buku ini: dari pekik ‘merdeka atau mati’ menuju ‘intelektualitas’ serta ‘kebebasan berekpreasi; dan sebuah asa ‘habis gelap terbitlah terang’.
Ayip mengidamkan arah perjalanan bangsa ini dari bambu berdarah (kekerasan), yang identik dengan slogan ‘merdeka atau mati’, ke wilayah pensil penanda ‘kebebasan berekspresi’ dan pendidikan. Sementara, pensil juga adalah penanda ‘pendidikan’. Kitapun diajak terkenang pada surat-surat Kartini yang ditulis dengan ‘pensil’.
Kartini, sebagai seorang perempuan Jawa yang terjepit sangkar feodalisme, ia memimpikan kesetaraan antar peremuan dan laki-laki dalam mendapat akses pendidikan, sangat terkenal dengan kumpulan ‘mimpi’ dan cita-citanya dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Suatu hari di tahun 1900 Kartini menulis: “Andai aku anak laki-laki, aku tak akan berpikir dua kali untuk segera menjadi seorang pelaut.” Pelaut adalah lambang kekebasan merengkuh samudera tanpa batas. Ia memimpikan sekolah untuk para perempuan. Semenjak era itu seorang perempuan telah bersenjata ‘pensil’, mengekpresikan pikiran dan idenya. Dia menulis surat untuk sahabatnya di negeri Belanda. Surat menyurat antara Jepara (Jawa) dan Belanda ini, menggambarkan bagaimana ‘relasi’ Barat-Timur. Memecah tembok antar penjajah dan terjajah, dan selanjutnya memecah tembok tebal laki-perempuan, cikal bakal renungan kesetaraan dan akses pendidikan untuk semua. Keyakinan bahwa dengan ‘pensil’ (yang berasosiasi dengan pikiran, ekpresi, kecerdasan, bukan otot atau jenis kelamin) sebagai jalan dan tujuan dari kemerdekaan telah ditampilkan Kartini. Ah, barangkali Kartini akan senang, seandainya sempat melihat abstraksi Ayip yang digambarkan dengan bendera Merah Putih diikat di ujung pensil, bukan bambu runcing sebagaimana gambaran perang kemerdekaan yang ada dalam film atau buku ajar sekaloh. Pensil lebih mencintrakan keteduhan dan kelembutan, dibanding bambu runcing yang mengesankan ‘phallus’, sangat laki-laki.
Dalam halaman lain, dengan Entering Bright Zone, Ayip kembali mengulang ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’. Garuda Pancasila meluncur dari layar hitam ke putih. Sebuah gambar hitam putih, yang membawa haru, bukan gemerlap. Pada ‘kontruksi’ lain, huruf I-N-D-O-N-E-S-I-A telah ‘di-reproduksi’ menjadi menjadi tangga naik. Sebuah gambaran yang merangkum, barangkali, seluruh harapan rakyat Indonesia akan bangsanya.
Ada beberapa karya dalam buku ini yang menyuguhkan rasa ‘karikatural’, tapi tetap di dalamnya ada kedalaman, ada keseriusan dalam ‘menimbang bangsa’. Tumpukan jengkel dan muram, kebimbangan, bercampur harapan, cukup terasa di sana sini. Layar computer, bagi Ayip, telah menjelma menjadi ‘layar pergulatan’, layar pertarungan harapan dan kesegalauan. Sangat jelas, Ayip bukan orang yang pesimis. Hampir dalam semua pergulatannya, ia tetap berusaha menyisipkan harapan. Harapan, kata inilah yang barangkali akan membuat bangsa ini tetap utuh.
Apa yang sedang diusahakan Ayip? Di tengah situasi simbol keindonesiaan yang merapuh, terkoyaknya harapan, dan kaburnya makna kata kepahlawanan, Ayip mengalinya dengan ‘reproduksi simbol’ keindonesian dari ‘apa yang ada’ . Ayip, sadar atau tidak sadar, sedang membangkitkan mumi, simbol-simbol yang lama kehilangan bunyi. Walaupun kadang ada kemangkelan, pedih dan haru, HARAPAN & CINTA di balik semua karyanya penting untuk kita simak. Dan, sekalipun (terlalu) sering kita kecewa dengan (pemimpin) bangsa ini, Ayip seakan mengajak kita mempertahankan harapan, ia memberi contoh bagaimana ‘jengkel dengan cara artistik’, bukan membakar ban di jalanan.
Sugi Lanus adalah peneliti budaya yang bekerja secara independen.
August 16th, 2008 at 5:56 am
berbicara masalah senjata bambu runcing maka tak lepas dari sejarah bangsa Indonesia pada waktu itu. sekitar tahun 1945.konon didaerah jawatengah tepatnya di kota parakan temanggung, tersebutlah seorang ulama kharismatik bernama KH. Subchi. karena demi untuk melawan bangsa penjajah maka terwujudlah gagasan untuk mempertahankan kemerdekaan RI, dengan senjata BAMBU RUNCING yang sudah diberi ubo rampe do’a do’a. demi menghadapi perlawanan bangsa penjajah. sehingga senjata yang terlihat sederhanaitu justru menjadi senjata yang populer pada waktu itu, dan hingga kini menjadi sebuah ceria heroik bangsa Indonesia. demikian sekilas yang kami sampaikan semoga dapat menjadi bahan renungan kita
August 16th, 2008 at 5:57 am
berbicara masalah senjata bambu runcing maka tak lepas dari sejarah bangsa Indonesia pada waktu itu. sekitar tahun 1945.konon didaerah jawatengah tepatnya di kota parakan temanggung, tersebutlah seorang ulama kharismatik bernama KH. Subchi. karena demi untuk melawan bangsa penjajah maka terwujudlah gagasan untuk mempertahankan kemerdekaan RI, dengan senjata BAMBU RUNCING yang sudah diberi ubo rampe do’a do’a. demi menghadapi perlawanan bangsa penjajah. sehingga senjata yang terlihat sederhanaitu justru menjadi senjata yang populer pada waktu itu, dan hingga kini menjadi sebuah cerita heroik bangsa Indonesia. demikian sekilas yang kami sampaikan semoga dapat menjadi bahan renungan kita
August 16th, 2008 at 5:57 am
berbicara masalah senjata bambu runcing maka tak lepas dari sejarah bangsa Indonesia pada waktu itu. sekitar tahun 1945.konon didaerah jawatengah tepatnya di kota parakan temanggung, tersebutlah seorang ulama kharismatik bernama KH. Subchi. karena demi untuk melawan bangsa penjajah maka terwujudlah gagasan untuk mempertahankan kemerdekaan RI, dengan senjata BAMBU RUNCING yang sudah diberi ubo rampe do’a do’a. demi menghadapi perlawanan bangsa penjajah. sehingga senjata yang terlihat sederhana itu justru menjadi senjata yang populer pada waktu itu, dan hingga kini menjadi sebuah cerita heroik bangsa Indonesia. demikian sekilas yang kami sampaikan semoga dapat menjadi bahan renungan kita