October 25th, 2008 by ayipbali
34 years old Indonesian, Sakti Parantean, became the 2008 International Young Screen Entrepreneur tonight at a packed awards ceremony at London’s Soho Hotel. A visibly shocked Parantean received the award from renowned UK film producer Duncan Kenworthy.
“We’ve been joking that I couldn’t win the award this year, because an Indonesian won it last year” commented Parantean on receiving the award, “I was even helping some of my fellow finalists with their presentations! I want to thank the British Council for this amazing award and I want to say to my fellow finalists, you are all remarkable.”
British Council’s Director Screen, Satwant Gill, read the judges’ citation:
“Sakti gave a deeply thought through and clearly executed explanation of the challenges and opportunities for the screen sector in Indonesia. He is highly impressive in business terms, with an underlying social and moral dimension to his company, using film to do something extra by creating excellent models of infrastructure in his country. The jury were touched and inspired by his vision and believe he is both an entrepreneur and a leader.”
Parantean wins a £7,500 prize fund, which he can use to develop a project between Indonesia and the UK.
Earlier in the evening each of the finalists introduced the audience to a five minute long film extract from their country. A rich medley of dance and drama, horror and documentary was presented.
The winner of the UK Young Screen Entrepreneur 2008 award was also announced at the ceremony, Teun Hilte of London-based Content Republic taking the inaugural award.
Source:
http://creativeconomy.org.uk
July 14th, 2008 by ayipbali
Oleh Akhmad Kusaeni
Jakarta (ANTARA News) dan KOMPAS
9 Juli 2008
Indonesia adalah negeri tanpa merk. Padahal, merk atau brand sangat menentukan citra negeri ini.
Di era persaingan global sekarang ini, merk sangat penting dalam strategi pencitraan dan pemasaran supaya orang bisa tahu keunikan negeri ini: apakah sebagai tujuan wisata, pusat produksi barang tertentu, atau tempat yang menguntungkan untuk investasi.
Ahli branding Randal Frost mengatakan, “Bayangkan Prancis tanpa mode, Jerman tanpa produk mobil mewah, dan Jepang tanpa produk elektronik yang menjadi keunggulannya dari bangsa lain”.
Prancis, Jerman dan Jepang adalah contoh negeri yang bisa mencitrakan dirinya berbeda dengan bangsa lain. Prancis identik dengan dunia fashion. Jerman dengan Mercedes Bentz. Jepang dengan Sony, Toshiba, atau LG.
Negara-negara tetangga juga sudah lebih baik mencitrakan dirinya. Malaysia dan Singapura telah berhasil membangun identitas nasionalnya dan menjualnya dengan gegap gempita. Dengan slogan “Malaysia is truly Asia”, negeri jiran itu sukses mencitrakan diri sebagai negara yang memiliki resort yang indah dan negara dengan multikultural yang rukun.
Hampir tiap bulan wartawan-wartawan Indonesia diundang ke Kuala Lumpur, Johor atau Genting oleh Badan Pelancongan Malaysia. Mereka pun menuliskan laporannya di media masing-masing bagaimana indahnya Kuala Lumpur dilihat dari puncak Menara Petronas, enaknya “mie rebus Haji Wahid di Johor” atau bagaimana maraknya suasana Genting, pusat perjudian di negara berpenduduk mayoritas Muslim itu. Semuanya diagendakan untuk menarik perhatian turis agar berkunjung ke Malaysia.
Sementara Singapura dengan slogan “Uniquely Singapore” juga berhasil membangun merk-nya sebagai surga untuk belanja di Asia.
Orang-orang Indonesia, apalagi pada saat liburan sekolah sekarang ini, tumplek blek ke Negeri Singa itu karena terpincut iklan “Singapore`s Great Sale”. Tiket pesawat dibuat murah, dengan harapan sesampainya di negara kota itu, para turis bisa menghabiskan uang mereka untuk belanja dan membayar biaya akomodasi yang mahal.
“Ini ironi yang merisaukan. Saat kita mengkampanyekan `Visit Indonesia year 2008`, pers nasional mengajak liburan ke negeri tetangga,” kata Sekjen PR Society of Indonesia, Ahmed Kurnia Suriawidjaja.
CUKUP BAGUS
Ahmed Kurnia menyebut kegagalan bangsa ini dalam pencitraan dirinya. Padahal, dulunya, merk Indonesia cukup bagus sebagai “Keajaiban Asia” (Asia Miracle) yang dipuja-puji lembaga-lembaga internasional seperti Bank Dunia atau Badan Pangan PBB. Akibat krisis ekonomi tahun 1998, semuanya terpuruk. Citra dan merk Indonesia hancur.
Jadilah, Indonesia negeri tanpa merk. Tidak ada satu pihak pun yang memikirkan branding, karena semua energi bangsa terkuras menghadapi krisis. Keperluan untuk pencitraan terkalahkan oleh tekanan untuk segera keluar dari krisis dan memulihkan perekonomian nasional.
Oleh karena Indonesia tidak sempat memikirkan citra, maka pihak lainlah yang memberikan merk kepada negeri ini. Ketika dunia sedang memerangi terorisme, maka Indonesia dicap sebagai negara pelindung teroris (harboring terrorism). Transparancy International memberi label Indonesia sebagai salah satu negara terkorup.
Travel warning yang dikeluarkan Amerika Serikat dan Australia memberi stigma Indonesia sebagai negara tidak aman dan berbahaya. Sementara pegiat HAM internasional “menggoreng” kasus terbunuhnya Munir dengan menuding Indonesia sebagai negara pelanggar hak asasi manusia dan membiarkan terjadinya pembunuhan politik.
Memang, belakangan ada upaya untuk kembali memikirkan perbaikan citra.
“Indonesia pernah membuat pencitraan, namun selalu berubah-ubah,” kata Ketua Indonesia Brand Entourage Handito Hadi Joewono.
Handito menyebut slogan-slogan yang pernah ada dikembangkan pasca lengsernya Soeharto, seperti “Indonesia, just a smile away”, “Indonesia, The color of life”, “Indonesia endless beauty of diversity” dan “Celebrating 100 Years of National Awakening”.
“Tapi upaya itu sepertinya `gak nendang`,” katanya.
“Gak nendang” adalah istilah gaul untuk menyebut sesuatu yang tidak mengena sasaran atau sesuatu yang tak membuahkan hasil seperti yang diharapkan.
CITRA BARU
Handito menekankan pentingnya dikembangkan citra baru atau “re-branding of Indonesia”. Citra negeri yang merosot merupakan pendorong paksa perubahan merk Indonesia.
Ia mengatakan saat ini terjadi krisis pencitraan atau “brand crisis”. Untuk itu diperlukan sebuah “re-branding” untuk menciptakan citra Indonesia baru.
Dalam istilah hukum dikenal adanya “rehabilitasi nama baik” berupa dipulihkannya nama baik seseorang yang terbukti tidak bersalah atas kasus hukum tertentu.
“Rehabilitasi nama baik merupakan contoh kongkrit dari re-branding,” katanya.
Masalahnya, mau diberi merk apa Indonesia ke depan?
Apapun merknya, yang penting brand Indonesia itu merupakan keunggulan bangsa Indonesia yang unik dan tidak dimiliki bangsa lain. Begitu juga apakah Indonesia itu akan dicitrakan sebagai tujuan wisata, penghasil produk unggul tertentu, atau tempat investasi yang baik, adalah subyek untuk diputuskan oleh semua stakeholders bangsa ini.
Intinya Indonesia perlu re-branding. Sampai kapan negeri ini tanpa merk?(*)
COPYRIGHT © 2008
July 4th, 2008 by ayipbali
Apa yang ada di benak anda dengan situasi Indonesia sekarang ini, dengan berbagai persoalan yang membelit, tidak pernah henti, dan malah selalu bertambah ? Sebagai anak bangsa, apa yang anda rasakan ketika setiap hari anda selalu mendengar berita berita buruk tentang Indonesia, pilkada rusuh, demo rusuh, antri minyak, kekeringan, kelaparan, pembunuhan, perkosaan, dll?
Siapa yang tidak terpaku lesu melihat bangsa lain kian maju kedepan, kita justru mundur pelamn pelan ke belakang ? Kalau anda pencari kerja, apakah tidak risau melihat sempitnya lapangan pekerjaan, dan penuhnya peminat kerja? kalau anda orang tua, apakah tidak mulai kalangkabut ketika biaya pendidikan membumbung tinggi? sekarang, gimana dengan nanti?
Seorang mantan petinggi ASEAN di Kuala Lumpur mengatakan kepada saya “Indonesia is a difficult country”…pernyataan yang membuat saya terhenyak dari tempat duduk saya di mobil, terkejut, dan akhirnya…….(apa boleh buat) maklum. Di Solomon Islands, negeri kecil nan miskin jauh di pedalaman samudera pacific, salah seorang penduduknya bilang …”Indonesia used to be my dream, now it become a nightmare”. Tertunduk lesu saya dibuatnya, sungguh.
Apakah kita sendirian ? Tidak tentu saja, banyak negara lain yang senasib dengan kita saat ini, Philipine adalah salah satu contohnya, mungkin juga argentina. Bisa jadi, banyak lagi. Tapi sesungguhnya, saya bisa menyamakan kondisi kita saat ini dengan ….Russia, bukan sekarang, akan tetapi russia di masa Yeltsin. Apa saja kondisi yang sama?
Baca Selengkapnya di GOOD NEWS FROM INDONESIA
June 9th, 2008 by ayipbali
Dari tanggal 5-8 Juni 2008 I See Indonesia dipamerkan di booth BALI CREATIVE COMMUNITY pada acara Pameran Produk Budaya Indonesia di Jakarta Convention Center. Selain mendisplay beberapa karya dalam bukunya, edisi cetaknya sudah dapat dinikmati di pameran ini. Tampak suasana pameran ketika Ibu Marie E. Pangestu selaku Menteri Perdagangan RI mengunjungi booth dan melihat buku I See Indonesia yang bernomor seri 001 dari 100 buku edisi khusus 100 tahun Kebangkitan Nasional Indonesia yang menjadi miliknya.
Pada tanggal 7 Juni 2008 I See Indonesia masuk kampus BINUS Jakarta di kelas Desain Komunikasi Visual dan selama 1 jam dilakukan presetasi serta diskusi mengenai buku I See Indonesia yang disambut dengan antusias.
May 29th, 2008 by ayipbali
Momen pendirian Budi Utomo 100 tahun lalu adalah sebuah perjuangan kolektif yang mempersatukan visi kebangsaan, pencapaian visinya barangkali telah terlampaui dan Budi Utomo masa kini dituntut menghadirkan visi kebangsaan yang baru. Macam apa visi kebangsaan yang baru ini?
Tidak hendak menjawab pertanyaan diatas, namun perspektif perjuangan membela kedaulatan bangsa dan negara tidak mungkin dilakukan sendiri-sendiri. Upaya mencari teman dalam perjuangan mencitrakan Indonesia lewat visual sangat menggembirakan hati. Dalam pencarian situs-situs maya ditemukanlah beberapa kesamaan visi memperjuangkan Indonesia lewat olah kreatif para insan kreatif Indonesia.
Beberapa situs ini memiliki daya ungkap yang kaya dan beragam sebagai penanda demikian luasnya ladang kreatifitas dapat digali mengenaikeindonesiaan. Tengok saja ada kampanye Indonesia Bertindak dengan jargon legendnya Travel Warning: Indonesia Dangerously Beautiful karya Iwan esjepe yang telah diungkap di berbagai kesempatan. Ada juga kampanye melawan kesemenaan presepsi “Barat” mengenai Indonesia yang lain di situs maya The Different Indonesia oleh M. Arief Budiman. Atau situs Indonesia bergerak yang mengajak kita semua ambil bagian di dalamnya dan situs I See Indonesia serta situs lain sejenis yang pada intinya menggugah rasa kebangsaan. Ada baiknya hajat poster internasional “Light of Hope for Indonesia” yang telah dipamerkan berkeliling semenjak 2005 dibuat dalam satu situs menjadi “open access”.
Apakah ini semua fenomena baru? Untuk menjawabnya kita bisa melihat bahwa visual bukanlah barang baru hadir menyertai perjuangan bangsa sedari awal. Seakan melengkapi perjuangan yang dilakukan secara fisik dan lewat tulisan, perjuangan visual memberikan kekuatan melalui bahasa perlambang atau simbol. Pekik Merdeka yang biasanya diteriakan tertulis di tembok dan dinding kereta “Merdeka ataoe Mati!”, demikian juga pada poster atau berupa karikatur. Beberapa seniman menuangkannya dalam lukisan mengekspresikan perlawanan atas penindasan.
Menarik bahwa perjuangan kreatif lewat visual membela Indonesia dijadikan sebuah perjuangan kolektif yang spiritnya sama ketika 100 tahun lalu dibentuk melalui Budi Utomo namun dengan visi yang lebih dinamis mengikuti bahasa jamannya. Harus diyakini bahwa karya karya visual yang ditampilkan oleh para kreator ini mampu mengajak manusia di jamannya bergerakdan bertindak membuat different Indonesia sehingga I See Indonesia akan menajdi lebih jernih dan optimis.
May 18th, 2008 by admin

350 tahun (konon) Indonesia dijajah Belanda, dan 100 tahun usia Kebangkitan Nasional Indonesia. Apakah secara matematis kita perlu 150 tahun lagi untuk “murni” merdeka dan mengimpaskannya? Bicara Indonesia sebetulnya “menakutkan” apalagi bicara nasionalisme atau patriotisme. Seakan kata itu menjadi barang langka bahkan cenderung elitis dan sakral. Atau malah kamuflase karena banyak yang memanipulasi artinya? Wallahualam.
I See Indonesia, sebuah buku yang menawarkan sesuatu yang soft & light untuk menyudahi “kengerian” membicarakan Indonesia, patriotisme dan nasionalisme. Ada 50-an visual yang dibuat Ayip semenjak 2002 mengenai Indonesia yang dibukukan dan diluncurkan bertepatan dengan peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional Indonesia 20 Mei 2008. Dan buat melaunchingnya, situs Desain Grafis Indonesia adalah virtual venue yang menjadi tuan rumahnya. Selamat menikmati…dan mudah-mudahan menjadi Merdeka.