May 29th, 2008 by ayipbali
Momen pendirian Budi Utomo 100 tahun lalu adalah sebuah perjuangan kolektif yang mempersatukan visi kebangsaan, pencapaian visinya barangkali telah terlampaui dan Budi Utomo masa kini dituntut menghadirkan visi kebangsaan yang baru. Macam apa visi kebangsaan yang baru ini?
Tidak hendak menjawab pertanyaan diatas, namun perspektif perjuangan membela kedaulatan bangsa dan negara tidak mungkin dilakukan sendiri-sendiri. Upaya mencari teman dalam perjuangan mencitrakan Indonesia lewat visual sangat menggembirakan hati. Dalam pencarian situs-situs maya ditemukanlah beberapa kesamaan visi memperjuangkan Indonesia lewat olah kreatif para insan kreatif Indonesia.
Beberapa situs ini memiliki daya ungkap yang kaya dan beragam sebagai penanda demikian luasnya ladang kreatifitas dapat digali mengenaikeindonesiaan. Tengok saja ada kampanye Indonesia Bertindak dengan jargon legendnya Travel Warning: Indonesia Dangerously Beautiful karya Iwan esjepe yang telah diungkap di berbagai kesempatan. Ada juga kampanye melawan kesemenaan presepsi “Barat” mengenai Indonesia yang lain di situs maya The Different Indonesia oleh M. Arief Budiman. Atau situs Indonesia bergerak yang mengajak kita semua ambil bagian di dalamnya dan situs I See Indonesia serta situs lain sejenis yang pada intinya menggugah rasa kebangsaan. Ada baiknya hajat poster internasional “Light of Hope for Indonesia” yang telah dipamerkan berkeliling semenjak 2005 dibuat dalam satu situs menjadi “open access”.
Apakah ini semua fenomena baru? Untuk menjawabnya kita bisa melihat bahwa visual bukanlah barang baru hadir menyertai perjuangan bangsa sedari awal. Seakan melengkapi perjuangan yang dilakukan secara fisik dan lewat tulisan, perjuangan visual memberikan kekuatan melalui bahasa perlambang atau simbol. Pekik Merdeka yang biasanya diteriakan tertulis di tembok dan dinding kereta “Merdeka ataoe Mati!”, demikian juga pada poster atau berupa karikatur. Beberapa seniman menuangkannya dalam lukisan mengekspresikan perlawanan atas penindasan.
Menarik bahwa perjuangan kreatif lewat visual membela Indonesia dijadikan sebuah perjuangan kolektif yang spiritnya sama ketika 100 tahun lalu dibentuk melalui Budi Utomo namun dengan visi yang lebih dinamis mengikuti bahasa jamannya. Harus diyakini bahwa karya karya visual yang ditampilkan oleh para kreator ini mampu mengajak manusia di jamannya bergerakdan bertindak membuat different Indonesia sehingga I See Indonesia akan menajdi lebih jernih dan optimis.
May 18th, 2008 by admin

350 tahun (konon) Indonesia dijajah Belanda, dan 100 tahun usia Kebangkitan Nasional Indonesia. Apakah secara matematis kita perlu 150 tahun lagi untuk “murni” merdeka dan mengimpaskannya? Bicara Indonesia sebetulnya “menakutkan” apalagi bicara nasionalisme atau patriotisme. Seakan kata itu menjadi barang langka bahkan cenderung elitis dan sakral. Atau malah kamuflase karena banyak yang memanipulasi artinya? Wallahualam.
I See Indonesia, sebuah buku yang menawarkan sesuatu yang soft & light untuk menyudahi “kengerian” membicarakan Indonesia, patriotisme dan nasionalisme. Ada 50-an visual yang dibuat Ayip semenjak 2002 mengenai Indonesia yang dibukukan dan diluncurkan bertepatan dengan peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional Indonesia 20 Mei 2008. Dan buat melaunchingnya, situs Desain Grafis Indonesia adalah virtual venue yang menjadi tuan rumahnya. Selamat menikmati…dan mudah-mudahan menjadi Merdeka.